Learned helplessness
Learned helplessness
Ringkasan Singkat
Kondisi psikologis ketika individu berhenti berusaha memperbaiki keadaannya karena kegagalan-kegagalan yang berulang di masa lalu telah meyakinkannya bahwa apa pun yang dilakukannya tidak akan mengubah apa-apa.
Learned helplessness adalah konsep psikologis yang mengacu pada kondisi di mana individu percaya bahwa mereka tidak memiliki kendali atas hasil dari pengalaman mereka, yang sering kali disebabkan oleh situasi traumatis atau penuh tekanan di masa lalu. Tanda khasnya mencakup tiga hal: defisit motivasi (berkurangnya upaya untuk mencoba), defisit kognitif (kegagalan mengenali bahwa kendali sebenarnya ada), dan defisit emosional (suasana hati yang tertekan dan berkurangnya respons terhadap hal-hal positif). Yang membuat kondisi ini sangat signifikan adalah bahwa perasaan tidak berdaya ini sering kali meluas, artinya seseorang yang merasa tidak berdaya di satu area kehidupan dapat mulai merasa tidak berdaya pula di area yang sama sekali tidak berkaitan.
Teori learned helplessness dikonseptualisasikan dan dikembangkan oleh psikolog Amerika Martin E.P. Seligman. Saat melakukan penelitian eksperimental tentang pengkondisian klasik, Seligman secara tidak sengaja menemukan bahwa anjing-anjing yang telah menerima kejutan listrik yang tidak dapat dihindari gagal mengambil tindakan dalam situasi selanjutnya, bahkan ketika melarikan diri sebenarnya sangat mungkin dilakukan. Eksperimen tersebut kemudian direplikasi dengan subjek manusia menggunakan suara keras sebagai pengganti kejutan listrik, dan menghasilkan hasil yang serupa. Seligman kemudian menciptakan istilah "learned helplessness" untuk menggambarkan keyakinan bahwa hasil dari suatu situasi tidak dapat dikendalikan.
Contoh:
Seorang anak yang belajar dengan giat untuk mendapatkan nilai bagus dalam pelajaran, tetapi pada akhirnya tetap mendapat nilai buruk. Anak ini mungkin mulai merasa tidak berdaya dan putus asa. Seiring waktu, ia berhenti berusaha belajar karena percaya bahwa usaha keras tidak akan mengubah hasilnya. Ia berkata pada diri sendiri "Aku memang bodoh" dan menyerah sebelum mencoba. Ini menciptakan lingkaran setan yaitu mereka yang merasa tidak mampu berhasil cenderung tidak mau berusaha, yang kemudian menurunkan peluang mereka untuk berhasil, dan berujung pada semakin berkurangnya motivasi dan usaha. Pola yang sama juga dapat muncul pada orang dewasa, misalnya seorang karyawan yang berkali-kali tidak mendapatkan promosi meskipun sudah bekerja keras, dan akhirnya memilih untuk berhenti berusaha sama sekali.
Referensi Yang Bisa Anda Gunakan
- Seligman, M. E. P., & Maier, S. F. (1967). Failure to escape traumatic shock. Journal of Experimental Psychology, 74(1), 1-9.
- Wang, H., & Guan, B. (2018). The positive effect of authoritarian leadership on employee performance. Frontiers in Psychology, 9, 357.
Peringatan Sitasi Akademik
Halaman ini disusun murni sebagai alat bantu pemahaman awal. Dilarang keras mengutip halaman ini sebagai sitasi utama dalam karya ilmiah atau tugas akhir. Silakan gunakan literatur primer yang tercantum pada daftar pustaka.