Sunk Cost Fallacy
Sunk Cost Fallacy
Ringkasan Singkat
Kecenderungan seseorang untuk terus melanjutkan sesuatu yang tidak lagi menguntungkan karena sudah terlanjur menginvestasikan waktu, uang, atau bentuk usaha lain ke dalamnya.
Sunk cost fallacy terjadi ketika seseorang melanjutkan suatu perilaku atau usaha karena sumber daya yang telah diinvestasikan sebelumnya, yaitu waktu, uang, atau tenaga, alih-alih mengevaluasi prospek masa depan berdasarkan manfaatnya sendiri. Kekeliruan ini terletak pada membiarkan investasi masa lalu yang tidak dapat dikembalikan memengaruhi keputusan tentang masa depan, padahal pengambilan keputusan yang rasional mengharuskan hanya potensi biaya dan manfaat di masa depan yang seharusnya dipertimbangkan.
Contoh:
Seseorang telah membayar tiket pesawat seharga Rp 10.000.000. Namun pada hari keberangkatannya, Air Traffic Controller memberitahukan bahwa pesawat tersebut memiliki 50% risiko kecelakaan maut. Mendengar informasi tersebutt, orang yang sudah membayar itu ingin membatalkan perjalanannya, namun di saat yang sama juga merasa sia-sia jika sudah membayar uang besar namun tidak ada hasil. Dalam kasus ini, sunk cost fallacy membuat orang tersebut melepaskan diri dari keputusan yang terlanjut dibuat.
Referensi Yang Bisa Anda Gunakan
- Arkes, H. R., & Blumer, C. (1985). The psychology of sunk cost. Organizational Behavior and Human Decision Processes, 35(1), 124-140.
- Kahneman, D., & Tversky, A. (1979). Prospect theory: An analysis of decision under risk. Econometrica, 47(2), 263-291.
- Thaler, R. H. (1999). Mental accounting matters. Journal of Behavioral Decision Making, 12(3), 183-206.
Peringatan Sitasi Akademik
Halaman ini disusun murni sebagai alat bantu pemahaman awal. Dilarang keras mengutip halaman ini sebagai sitasi utama dalam karya ilmiah atau tugas akhir. Silakan gunakan literatur primer yang tercantum pada daftar pustaka.